
Halo, Sobat Netizen Sinau! 👋
Pernahkah kalian membaca sebuah artikel yang membahas suatu permasalahan dari dua sudut pandang yang berbeda? Misalnya tentang penggunaan media sosial, pembelajaran daring, atau perkembangan teknologi. Artikel seperti itu disebut teks diskusi.
Selain memiliki struktur yang jelas, teks diskusi juga menggunakan unsur kebahasaan tertentu agar pendapat yang disampaikan menjadi logis, runtut, dan mampu meyakinkan pembaca. Pada materi ini, Katy dan Miko akan mengajak kalian mempelajari berbagai unsur kebahasaan teks diskusi secara lengkap beserta contoh dan analisisnya.
- 1. Menggunakan Kata-Kata Teknis
- 2. Menggunakan Konjungsi (Kata Hubung)
- 3. Menggunakan Kata Rujukan
- 4. Menggunakan Kata Ganti Orang
- 5. Menggunakan Kalimat Saran atau Rekomendasi
- 6. Menggunakan Kata yang Menunjukkan Waktu Kini
- 7. Menggunakan Kata yang Mengungkapkan Pikiran dan Perasaan
- 8. Menggunakan Kata Emotif
- 9. Menggunakan Bahasa Evaluatif
- 10. Menggunakan Modalitas atau Derajat Kepastian
- Kohesi
- Koherensi
- Haruskah Penggunaan Telepon Genggam di Sekolah Diperbolehkan?
Apa Itu Unsur Kebahasaan Teks Diskusi?
Unsur kebahasaan adalah berbagai ciri penggunaan bahasa yang membedakan teks diskusi dengan jenis teks lainnya. Unsur-unsur tersebut membantu penulis menyampaikan pendapat, menghubungkan gagasan, memperkuat argumen, serta memberikan simpulan yang logis.
Penggunaan bahasa yang tepat membuat pembaca lebih mudah memahami permasalahan sekaligus mempertimbangkan berbagai sudut pandang yang disajikan.
Unsur Kebahasaan Teks Diskusi

1. Menggunakan Kata-Kata Teknis
Teks diskusi menggunakan istilah yang berkaitan langsung dengan topik yang dibahas sehingga pembahasan menjadi lebih tepat.
Contoh:
- perubahan iklim
- media sosial
- teknologi digital
- kebijakan pendidikan
- literasi digital
- emisi karbon
Penggunaan istilah teknis membuat pembahasan lebih jelas sesuai dengan tema.
2. Menggunakan Konjungsi (Kata Hubung)
Konjungsi berfungsi menghubungkan kata, frasa, klausa, kalimat, maupun paragraf agar isi tulisan menjadi runtut.
Beberapa konjungsi yang sering digunakan dalam teks diskusi antara lain:
| Jenis | Contoh |
| Penambahan | dan, serta |
| Pilihan | atau |
| Pertentangan | tetapi, namun |
| Penyebab | karena, sebab, oleh sebab itu |
| Akibat | sehingga, maka |
| Penjelasan | bahwa |
| Waktu | sebelum, setelah, ketika, selama |
| Tujuan | agar, supaya |
| Syarat | jika, apabila, bila |
| Harapan | semoga, mudah-mudahan |
| Urutan | kemudian, lalu, akhirnya |
Konjungsi membantu hubungan antaride menjadi lebih jelas sehingga pembaca dapat mengikuti alur pembahasan.
3. Menggunakan Kata Rujukan
Kata rujukan menunjukkan sumber pendapat atau dasar suatu argumen.
Contohnya:
- menurut …
- berdasarkan …
- sesuai pendapat …
- mengacu pada …
Penggunaan kata rujukan membuat argumen terasa lebih kuat karena didasarkan pada pendapat atau sumber tertentu.
4. Menggunakan Kata Ganti Orang
Teks diskusi sering menggunakan kata ganti orang untuk melibatkan pembaca.
Contoh:
- kita
- kami
- Anda
- Saudara
Penggunaan kata ganti membuat pembahasan terasa lebih komunikatif.
5. Menggunakan Kalimat Saran atau Rekomendasi
Bagian akhir teks diskusi biasanya berisi saran atau rekomendasi sebagai bentuk penyelesaian masalah.
Contoh kata yang digunakan:
- hendaknya
- sebaiknya
- harus
- jangan
Kalimat tersebut menunjukkan solusi setelah mempertimbangkan berbagai pendapat.
6. Menggunakan Kata yang Menunjukkan Waktu Kini
Karena membahas isu yang sedang terjadi, teks diskusi umumnya memakai kata yang menunjukkan keadaan saat ini.
Contohnya:
- adalah
- merupakan
- sedang
- perlu
- bertindak
- artinya
- hentikan
- selamatkan
Kata-kata tersebut menunjukkan bahwa pembahasan berkaitan dengan kondisi yang sedang berlangsung.
7. Menggunakan Kata yang Mengungkapkan Pikiran dan Perasaan
Penulis sering menggunakan kata yang menunjukkan sikap atau keyakinannya terhadap suatu isu.
Contohnya:
- percaya
- yakin
- berpikir
- merasa
- berharap
- ragu
- kagum
Kata-kata tersebut membantu menunjukkan posisi penulis dalam diskusi.
8. Menggunakan Kata Emotif
Kata emotif digunakan untuk menggugah perhatian pembaca terhadap suatu persoalan.
Contohnya:
- berbahaya
- ganas
- unik
- berharga
- menakjubkan
- brutal
- sejuk
- lembut
Penggunaan kata emotif harus tetap proporsional agar tidak mengurangi objektivitas pembahasan.
9. Menggunakan Bahasa Evaluatif
Bahasa evaluatif dipakai untuk memberikan penilaian terhadap suatu argumen atau fakta.
Contohnya:
- penting
- menguntungkan
- mengancam
- terlalu rapuh
- lebih mudah
- sangat jelas
- diharapkan
Bahasa evaluatif membantu pembaca memahami kelebihan maupun kelemahan suatu pendapat.
10. Menggunakan Modalitas atau Derajat Kepastian
Modalitas menunjukkan tingkat keyakinan penulis terhadap suatu pernyataan.
Contohnya:
- dapat
- akan
- harus
- mesti
- tentu
- pasti
- biasanya
- hampir
- kadang-kadang
- seharusnya
Penggunaan modalitas membantu memperkuat maupun memperhalus suatu argumen.
Penggunaan Bahasa yang Efektif dalam Teks Diskusi
Agar tujuan diskusi tercapai, penggunaan bahasa harus memenuhi beberapa aspek berikut.
- Mampu meyakinkan pembaca atau pendengar.
- Gagasan tersampaikan secara logis.
- Posisi penulis terlihat jelas.
- Kosakata sesuai dengan topik pembahasan.
- Hubungan antarkalimat dan antarparagraf runtut menggunakan konjungsi, kata rujukan, dan kata ganti yang tepat.
Kohesi dan Koherensi dalam Teks Diskusi
Teks diskusi yang baik tidak hanya memiliki kalimat yang benar, tetapi juga memiliki hubungan yang jelas antarkalimat.
Kohesi
Kohesi adalah keterkaitan bentuk bahasa antarkalimat atau antarparagraf.
Kohesi dibangun melalui:
- konjungsi
- kata ganti
- kata rujukan
- pengulangan kata yang tepat
Koherensi
Koherensi adalah keterkaitan makna antargagasan sehingga pembahasan terasa utuh.
Walaupun sebuah paragraf memiliki banyak kata penghubung, jika ide-idenya tidak saling berkaitan maka paragraf tersebut belum memiliki koherensi.
Dengan demikian, teks diskusi yang baik harus memiliki kohesi sekaligus koherensi agar argumen mudah dipahami dan mampu meyakinkan pembaca.
Contoh Teks Diskusi
Haruskah Penggunaan Telepon Genggam di Sekolah Diperbolehkan?
Perkembangan teknologi membuat telepon genggam menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Saat ini banyak peserta didik membawa telepon genggam ke sekolah karena perangkat tersebut dapat digunakan untuk mencari informasi, mengakses buku digital, serta berkomunikasi dengan guru maupun orang tua. Oleh karena itu, sebagian orang berpendapat bahwa penggunaan telepon genggam di sekolah perlu diperbolehkan sebagai sarana pendukung pembelajaran.
Di sisi lain, penggunaan telepon genggam juga menimbulkan berbagai kekhawatiran. Tidak sedikit peserta didik yang justru menggunakan perangkat tersebut untuk bermain gim, membuka media sosial saat pelajaran berlangsung, atau melakukan aktivitas lain yang mengganggu konsentrasi belajar. Kondisi ini dapat menurunkan fokus, mengurangi interaksi langsung dengan teman, bahkan berpotensi menimbulkan penyalahgunaan teknologi apabila tidak diawasi dengan baik.
Namun demikian, telepon genggam juga memberikan manfaat apabila digunakan secara bijaksana. Peserta didik dapat mencari referensi tambahan, mengikuti pembelajaran berbasis digital, mengerjakan tugas secara daring, serta memanfaatkan berbagai aplikasi pendidikan. Berdasarkan kondisi tersebut, penggunaan telepon genggam sebenarnya dapat mendukung proses belajar apabila disertai aturan yang jelas.
Dengan mempertimbangkan kedua pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa penggunaan telepon genggam di sekolah tidak perlu dilarang sepenuhnya. Sekolah hendaknya membuat aturan penggunaan yang jelas sehingga perangkat tersebut benar-benar dimanfaatkan untuk kegiatan belajar, bukan untuk aktivitas yang mengganggu proses pembelajaran.
Analisis Unsur Kebahasaan pada Contoh Teks
| No | Unsur Bahasa | Bukti dalam Teks | Analisis |
| 1 | Kata teknis | telepon genggam, buku digital, pembelajaran daring, aplikasi pendidikan, media sosial | Istilah-istilah tersebut merupakan kosakata khusus yang berkaitan dengan bidang teknologi dan pendidikan sehingga pembahasan menjadi lebih spesifik dan sesuai dengan topik diskusi. |
| 2 | Konjungsi | karena, oleh karena itu, di sisi lain, selain itu, namun demikian, apabila, dengan mempertimbangkan | Konjungsi digunakan untuk menghubungkan hubungan sebab-akibat, pertentangan, penambahan, syarat, dan penyimpulan sehingga alur pembahasan menjadi runtut dan logis. |
| 3 | Kata rujukan | Berdasarkan kondisi tersebut | Kata rujukan menghubungkan simpulan dengan pembahasan sebelumnya sehingga kesimpulan memiliki dasar yang jelas dan tidak muncul secara tiba-tiba. |
| 4 | Kata ganti orang | peserta didik, mereka, sebagian masyarakat | Penggunaan kata ganti dan penyebutan pihak yang terlibat membuat pembahasan lebih komunikatif serta menghindari pengulangan subjek secara berlebihan. |
| 5 | Kalimat saran | Sekolah hendaknya menetapkan aturan yang jelas… | Kata hendaknya menunjukkan adanya rekomendasi atau solusi terhadap permasalahan setelah mempertimbangkan argumen pro dan kontra. |
| 6 | Kata waktu kini | Saat ini, dapat, perlu | Kata-kata tersebut menunjukkan bahwa isu yang dibahas merupakan persoalan aktual yang sedang terjadi pada masa sekarang. |
| 7 | Kata pikiran dan perasaan | berpendapat, beranggapan | Kata tersebut menunjukkan sikap atau pandangan dari pihak yang mendukung maupun menolak penggunaan telepon genggam di sekolah. |
| 8 | Kata emotif | mengganggu, manfaat, penyalahgunaan | Kata-kata tersebut memberikan kesan emosional yang membantu pembaca memahami dampak positif maupun negatif dari isu yang dibahas. |
| 9 | Bahasa evaluatif | lebih modern, efisien, bijaksana, jelas | Bahasa evaluatif digunakan untuk memberikan penilaian terhadap manfaat, kelebihan, dan syarat penggunaan telepon genggam sehingga argumen menjadi lebih kuat. |
| 10 | Modalitas | dapat, perlu, hendaknya | Modalitas menunjukkan tingkat kepastian, kemungkinan, dan anjuran penulis terhadap solusi yang ditawarkan. |
| 11 | Kohesi | Penggunaan konjungsi oleh karena itu, di sisi lain, namun demikian, berdasarkan kondisi tersebut | Kohesi terlihat dari keterkaitan bentuk antarkalimat melalui penggunaan konjungsi dan kata rujukan sehingga paragraf menjadi padu. |
| 12 | Koherensi | Urutan pembahasan dimulai dari pengenalan isu, argumen pro, argumen kontra, hingga simpulan | Koherensi tampak dari kesinambungan makna antargagasan. Setiap paragraf mendukung paragraf berikutnya sehingga keseluruhan teks mudah dipahami dan memiliki alur berpikir yang logis. |
Ringkasan Materi
Unsur kebahasaan teks diskusi meliputi penggunaan kata teknis, konjungsi, kata rujukan, kata ganti, kalimat saran, kata yang menunjukkan waktu kini, kata pikiran dan perasaan, kata emotif, bahasa evaluatif, serta modalitas. Selain itu, teks diskusi harus memiliki kohesi dan koherensi agar argumen tersusun secara logis, runtut, dan mampu meyakinkan pembaca.
Kesimpulan
Penguasaan unsur kebahasaan merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam menulis teks diskusi. Dengan memilih kosakata yang tepat, menggunakan konjungsi secara benar, serta menjaga kohesi dan koherensi, sebuah teks diskusi akan lebih mudah dipahami dan lebih efektif dalam menyampaikan berbagai sudut pandang. Oleh karena itu, sebelum menulis teks diskusi, setiap penulis perlu memahami karakteristik bahasa yang menjadi ciri khas jenis teks ini.
Daftar Pustaka
Islamawati, Y., & Maman. (2025). Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX (Edisi Revisi). Jakarta Selatan: Pusat Perbukuan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Trianto, A., Harsiati, T., & Kosasih, E. (2018). Bahasa Indonesia SMP/MTs Kelas IX (Edisi Revisi). Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.


