
Halo, Sobat Netizen Sinau! 👋
Saat membaca puisi, pernahkah kalian menemukan ungkapan yang terdengar unik dan indah? Misalnya, seseorang disebut sebagai buah hati, wajah diibaratkan bulan purnama, atau sebuah kata diulang berkali-kali dalam satu bait puisi. Ungkapan-ungkapan tersebut merupakan bagian dari majas atau gaya bahasa yang sering digunakan oleh penyair.
Pada materi kali ini, Katy dan Miko akan menemani kalian mengenal serta membandingkan tiga jenis majas yang sering ditemukan dalam puisi, yaitu metafora, simile, dan repetisi.
Membaca Puisi dan Mengenali Majas
Dalam kegiatan membaca puisi, setiap penyair memiliki cara yang berbeda dalam menyampaikan gagasan dan perasaannya. Untuk memperindah puisi, penyair menggunakan berbagai majas dan gaya bahasa.
Majas adalah cara melukiskan sesuatu dengan membandingkannya dengan hal lain yang memiliki kesamaan tertentu. Penggunaan majas membuat puisi menjadi lebih hidup, menarik, dan memiliki nilai estetika yang tinggi.
Meskipun terdapat banyak jenis majas dalam bahasa Indonesia, pada materi ini kita akan fokus mempelajari tiga jenis majas, yaitu:
- Majas metafora
- Majas simile
- Majas repetisi
Apa Itu Majas?
Majas adalah bahasa kias yang digunakan untuk menciptakan efek tertentu dalam sebuah karya sastra. Penggunaan majas dapat membantu penyair menyampaikan pesan dengan cara yang lebih indah dan bermakna.
Melalui majas, pembaca dapat merasakan suasana, emosi, dan gambaran yang ingin disampaikan oleh penyair.
1. Majas Metafora
Metafora adalah penggunaan kata atau kelompok kata yang tidak digunakan dalam arti sebenarnya, melainkan sebagai bentuk perbandingan atau kiasan.
Majas metafora membandingkan dua hal secara tidak langsung tanpa menggunakan kata pembanding seperti seperti, bagai, atau laksana.
Ciri-Ciri Majas Metafora
- Menggunakan makna kiasan.
- Membandingkan dua hal secara tidak langsung.
- Tidak menggunakan kata pembanding.
- Memberikan kesan puitis dan mendalam.
Contoh Majas Metafora
| Ungkapan | Makna |
| Tulang punggung | Penopang atau orang yang menjadi andalan |
| Buah hati | Anak yang sangat disayangi |
| Cendera mata | Oleh-oleh atau kenang-kenangan |
| Bunga desa | Gadis cantik di sebuah desa |
| Sampah masyarakat | Orang yang dianggap tidak berguna bagi lingkungan sosial |
Selain itu, penyair sering menggunakan unsur alam sebagai metafora, seperti:
- Matahari
- Bulan
- Bintang
- Pelangi
- Hujan
Penggunaan unsur alam tersebut dapat memperkaya makna dan keindahan puisi.
2. Majas Simile
Menurut Keraf (2007), simile adalah perbandingan yang bersifat eksplisit atau langsung.
Artinya, penyair secara jelas membandingkan dua hal dengan menggunakan kata-kata pembanding tertentu.
Kata-Kata Pembanding dalam Simile
Beberapa kata pembanding yang sering digunakan dalam simile antara lain:
- Seperti
- Sama
- Sebagai
- Bagaikan
- Bagai
- Laksana
- Umpama
Ciri-Ciri Majas Simile
- Mengandung kata pembanding.
- Membandingkan dua hal secara langsung.
- Mudah dikenali karena perbandingannya dinyatakan secara jelas.
Contoh Majas Simile
- Bibirnya seperti delima merekah.
- Matanya seperti bintang timur.
- Seperti menatang minyak penuh.
- Bagai air di daun talas.
- Laksana bulan empat belas.
Perhatikan bahwa semua contoh tersebut menggunakan kata pembanding secara langsung.
3. Majas Repetisi
Repetisi adalah majas yang menggunakan pengulangan bunyi, suku kata, kata, atau bagian kalimat tertentu untuk memberikan penekanan terhadap gagasan yang dianggap penting.
Pengulangan tersebut membantu memperkuat makna dan menciptakan irama yang indah dalam puisi.
Ciri-Ciri Majas Repetisi
- Terdapat pengulangan kata atau frasa.
- Digunakan untuk memberikan penekanan.
- Membantu menciptakan irama dalam puisi.
- Memudahkan pembaca mengingat pesan yang disampaikan.
Contoh Majas Repetisi
Penggalan puisi Padamu Jua karya Amir Hamzah:
Satu kekasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa
Pada bait tersebut, kata rindu diulang untuk memperkuat perasaan yang ingin disampaikan oleh penyair.
Perbedaan Majas Metafora, Simile, dan Repetisi
| Aspek | Metafora | Simile | Repetisi |
| Bentuk | Perbandingan tidak langsung | Perbandingan langsung | Pengulangan kata atau frasa |
| Kata Pembanding | Tidak ada | Ada | Tidak harus ada |
| Tujuan | Memberi makna kiasan | Menjelaskan persamaan secara jelas | Memberi penekanan |
| Contoh | Buah hati | Matanya seperti bintang | Rindu rasa, rindu rupa |
Mengapa Majas Penting dalam Puisi?
Penggunaan majas membuat puisi menjadi lebih menarik dan bermakna.
Beberapa manfaat majas dalam puisi antara lain:
- Menambah keindahan bahasa.
- Membantu pembaca membayangkan sesuatu dengan lebih jelas.
- Memperkuat pesan yang ingin disampaikan penyair.
- Menciptakan suasana tertentu dalam puisi.
- Membuat puisi lebih hidup dan berkesan.
Jelajah Kata
Berikut beberapa kosakata yang perlu dipahami saat mempelajari majas dalam puisi.
| Kata | Makna |
| Aneka | Bermacam-macam, beragam, dan berbagai jenis |
| Estetika | Keindahan atau kepekaan terhadap seni dan keindahan |
| Efek | Kesan yang timbul pada pembaca, pendengar, atau penonton |
| Eksplisit | Terus terang, langsung, dan gamblang |
Kesimpulan
Dalam puisi, majas digunakan untuk menciptakan keindahan bahasa dan memperkuat pesan yang ingin disampaikan penyair. Tiga majas yang sering digunakan adalah metafora, simile, dan repetisi.
Metafora membandingkan sesuatu secara tidak langsung menggunakan bahasa kias. Simile membandingkan sesuatu secara langsung dengan kata pembanding seperti seperti atau bagai. Sementara itu, repetisi menggunakan pengulangan kata atau frasa untuk memberikan penekanan pada gagasan tertentu.
Dengan memahami ketiga majas tersebut, kalian akan lebih mudah menikmati keindahan puisi sekaligus memahami makna yang terkandung di dalamnya.
Selamat belajar, Sobat Netizen Sinau! Semoga materi ini membantu kalian memahami majas dalam puisi dengan lebih mudah dan menyenangkan bersama Katy dan Miko. 🌟
Daftar Pustaka
Gusfitri, Maya Lestari dkk. 2021. Bahasa Indonesia untuk SMP Kelas VIII. Jakarta: Pusat Perbukuan, Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Keraf, Gorys. 2007. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Materi ini pertama kali disusun pada 2025 dan telah diperbarui pada 2026 untuk menyesuaikan kebutuhan pembelajaran serta dilengkapi ilustrasi dan media visual terbaru.

